Novel Sang Patriot Dibikin untuk Eyang Sroedji Tercinta

Irma Devita adalah cucu kesayangan dari Eyang Sroedji. Masa kecilnya sangat dekat dengan Mbah Putri Rukmini. Beliau sering sekali mendongengkan kisah kepahlawanan almarhum Mbah Kakung Sroedji. Kepandaian beliau mendongeng membuat setiap dongengnya selalu menarik dan berhasil membuat hati saya bergelora. Suatu saat waktu saya umur delapan tahun, saya ingat sekali bhwa saya pernah berucap kepada beliau untuk menuliskan kisah kepahlawanan mbah kakung ke dalam sebuah tulisan.

Bertahun-tahun kemudian, Irma sudah lupa dengan janjinya, sampai mbah putri meninggal tahun 2000 (usia 14tahun lalu). Sampai suatu saat, saya yang sudah menulis tujuh buku tentang hukum, teringat pada janji masa kecil dulu.

Di samping itu, Irma juga prihatin dengan semakin lunturnya semangat dan rasa cinta tanah air dari para generasi muda. Bahkan banyak yang sudah tidak mengenal betapa besarnya dan beratnya pengorbanan para pejuang kemederkaan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya Irma seorang notaris ini membulatkan tekad untuk menulis tentang Mbah Kakung Sroedji dua tahun lalu.

Lama penulisan sambil riset ke lapangan melihat lokasi sejarah di Jember membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. Irma ke Jember untuk riset selama 4 hari. Selebihnya ke beberapa kota lain yang menyimpan kisah tentang kakeknya antara lain : Museum Peta Bogor (6 kali), Bandung, Yogjakarta 3 kali, Malang 2 kali, Surabaya dan Kediri.

Setelah itu, Irma banyak dibantu oleh teman-teamnnya dari Belanda untuk memperkuat data, juga kawan dari Jember (terutama mas RZ Hakim), serta ibu dan bude saya yang merupakan dua anak yang masih hidup dari Mbah Kakung Sroedji.

Di samping itu saya juga dibantu oleh Almarhum Mayjend Hario Kecik (meninggal Agustus 2014 usia 93 tahun). Letjend Purbo.S,Suwondo (88 tahun), dan Kol Halim Danuatmodjo (usia 94tahun). Mereka ini pernah bertemu dan bisa menceritakan dengan baik bagaimana perjuangan pahlawan Jember ini.

Irma belum pernah bertemu kakeknya. Karena kakeknya meninggal tanggal 8 Februari 1949 sedangkan ibu saya saja saat itu baru berusia 1 tahun (lahir tanggal 7 Februari 1948). Jadi bahkan ibunya belum pernah bertemu almarhum kakek.

Saya terkesan dengan cerita nenek saya, yang menjelaskan tentang sifat Mbah Sroedji sebagai sosok suami yang penyayang dan lemah lembut kepada istri dan anak-anaknya, namun gagah berani di medan perang. Ditakuti lawan namun disayang oleh anak buahnya. Seorang pemimpin sejati yang tidak hanya memerintah dari belakang, "Majuu... majuuu!" melainkan pemimpin yang selalu berada di depan dengan berkata "Ayo ikuti saya..".

Menurut kesaksian temannya dan bekas anak buahnya dulu, beliau seorang pemimpin yang baik dengan leadership yang kuat. “Memimpin dengan memberikan contoh (teladan). Saya sangat bangga dan bersyukur memiliki kakek seperti beliau..” ujar Irma.

Ibunda Irma bernama lengkapnya Ny. Pudji Redjeki Irawati. Beliau belum pernah mengenal secar langsung ayah kandungnya Pak Sroedji. “Tapi sepertinya beliau kenyang mendengar cerita tentang ayahnya dari mulut ibunya. Sosok suami dan ayah teladan,” tambah Irma mengakhiri ceritanya dibalik penulisan novel kepahlawan “Sang Patriot”.

Dibawah ini tulisan Mas RZ Hakim saya ambil dari Kompasiana

Rukmini adalah nama Nenek Mbak Irma. Beliau istri dari Letkol Moch. Sroedji, sosok yang diceritakan dalam novel Sang Patriot.

“Saya paling dekat dengan Eyang Uti Rukmini. Kepada saya, dia senang mendongengkan kisah suaminya, Kakek Sroedji. Sebelum Eyang Uti meninggal dunia tahun 2000, saya berjanji untuk menceritakan kepada dunia tentang sosok Kakek. Ini dia, ini adalah hal kecil yang saya lakukan untuk Eyang Uti Rukmini, dengan sepenuh hati.”.

Ketika Sroedji gugur dalam pertempuran di Karangkedawung, Jember, pada 8 Februari 1949, ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Anak pertama dan kedua adalah laki-laki, Sucahjo dan Supomo. Keduanya kini telah meninggal dunia. Nomor tiga dan empat adalah perempuan, Sudi Astuti dan Pudji Redjeki Irawati.

Mbak Irma Devita adalah putri dari Ibu Pudji Redjeki Irawati.

“Sejak Kakek gugur di medan pertempuran, Nenek tidak mau menikah lagi. Ia membesarkan sendiri keempat buah hatinya dengan segala cara. Tentu ini bukan sesuatu yang mudah bagi beliau. Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai wanita mulia berhati sekeras baja.”

Sosok Eyang Rukmini mengingatkan saya pada sebuah kalimat, “Dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya.” Itu saya temukan pada Ibu Rukmini, istri dari Letkol Moch. Sroedji.

Cinta cucu kepada Eyangnya, itulah gambaran dibalik lahirnya novel Sang Patriot: Sebuah Epos Kepahlawanan. Kini saya tak heran dengan energi besar yang ditunjukkan oleh seorang Irma Devita. Ia ahli hukum, terbiasa berpikir praktis dan sistematis, namun ia berhasil mencintai bidang sejarah. Lalu ia sukses menuliskan sebuah novel. Salut!

Sementara sampai di sini dulu. Tunggu catatan-catatan saya selanjutnya tentang Novel Sang Patriot (Asita DK Suryanto).