Sisi Lain Penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval

Jika harus menuliskan sudut pandang warga Jember mengenai dampak baik dari keberadaan perhelatan akbar fashion kelas dunia ini tentu akan banyak sekali. Setidaknya tak lepas dari empat hal yaitu edukasi, entertain, exhibition atau pameran, serta economi benefit.

Di sebuah perhelatan akbar macam Jember Fashion Carnaval, tentu juga menyisakan ruang dialog mengenai ketidak-sempurnaannya. Saya kira, memperbincangkan kekurangan JFC adalah penting, setidaknya sebagai 'sangu' untuk perhelatan JFC berikutnya. Sebagai catatan, kita memberikan apresiasi bukan karena membenci, namun atas dasar saling melengkapi. Jika terjadi kemacetan komunikasi dua arah, maka kita tidak bisa lagi meraba dinamika sosial yang terjadi di pelukan masyarakat Jember itu sendiri, selaku tuan rumah.

"Seperti dalam JFC 2015 yang telah digelar bulan lalu, ada banyak sekali apresiasi dari warga Jember perihal semakin mahalnya harga tiket masuk, melambung hingga 500.000 rupiah. Tiket termurah seharga 150.000 rupiah. Menurut Lucia Sisworini dalam komentarnya di jejaring sosial Facebook tanggal 8 Agustus 2015, "Seratus lima puluh ribu rupiah itu tiket kelas yang paling murah. Tahun lalu harga segitu dapet depan panggung alias VIP. Tahun ini harga yang sama malah dapet kelas paliiing kere, di tribun pintu keluar yang dekat Masjid. Gak bisa lihat atraksi di panggung. Silahkan cek di website penjualan tiket JFC."

Ada pula yang kehilangan pedagang langganannya di hari akbar itu. "Suatu hari putri saya ingin sekali dibelikan jajanan molen. Hari itu juga saya mengelilingi kompleks sekitar rumah untuk mencari pedagang molen. Aneh, tak satu pun pedagang molen yang berhasil saya jumpai. Saya pulang dengan tangan kosong, tak ada sebungkus molen untuk Bintang, anak saya. Malam harinya barulah saya menyadari jika hari itu Jember sedang punya gawe, tidak lain adalah Jember Fashion Carnaval. Jika tidak salah ingat, itu terjadi di tahun 2009. Di hari dilangsungkannya JFC, para pedagang tentu mengerubungi stand di sepanjang jalan yang dilalui para devile JFC."

Kisah di atas saya dengar langsung dari bibir Didik Slamet Santoso, karyawan RRI Jember kelahiran 6 Mei 1960. Dia bilang, meskipun tak berhasil membelikan molen untuk buah hatinya, namun ia tetap merasa bahagia. Setidaknya di hari berlangsungnya JFC, banyak para pedagang yang dagangannya ludes. "Ada lonjakan pendapatan di hari H pelaksanaan JFC. Hampir semua pedagang seperti pedagang molen, bakso, cilok, dan sebagainya, semua tumplek-blek di areal JFC, terutama pedagang makanan dan minuman. Meskipun pembelinya bukan pengunjung luar negeri, yang penting dagangannya habis," ujar Didik.

Pernyataan senada sering saya jumpai dari warga Jember yang lain. Mereka banyak yang merasa bangga dengan acara ini. Di musim karnaval, penginapan di Jember penuh. Untuk JFC tahun ini, tiket pesawat terbang habis terjual. Kebanggaan yang didasarkan di luar prinsip ekonomi, tentu saja tentang dikenalnya nama Jember di pentas dunia.

"Saya suka. JFC bisa mencuri perhatian dunia. Ibaratnya panggung, hari itu sorot kamera seakan-akan hanya tertuju pada Jember." Kalimat ini saya dengar secara langsung dari Etty Dharmiyatie, penyiar Prosatu RRI Jember.

Untuk teman-teman yang mengagumi JFC dengan sepenuh tenaga, mohon tidak berburuk sangka terlebih dahulu mengenai komentar di atas. Lucia Sisworini, ia juga seorang yang mengacungi jempol terhadap kreatifitas kolosal di Jember. Hanya saja mengenai tiket, Lucia Sisworini sekedar mencoba membandingkannya dengan posisi tiket di tahun sebelumnya. Pada 30 Agustus 2015, ia memberikan komentar segar di kolom komentar Facebook, mengomentari apresiasi Profesor Ayu Sutarto mengenai JFC. "Dan saya ikut kagum dengan segala perjuangan Mas Dynand Fariz yang terus terang saya harus angkat salut tinggi2. Bila setahun sekali Mas Dynand menjadi icon Jember, mengapa yang rajin kritik tidak mengisi menjadi icon juga dalam kemampuan berkesenian yang lain? 365 hari dalam setahun hanya ada 4 hari beliau jadi icon. Masih ada 361 hari yang lain yang semestinya bisa diisi oleh yang lain. Biarlah 4 hari ini menjadi milik Mas Dynand Fariz. Yang lain monggo bikin event lain yang sehebat dan seheboh JFC. Apapun bentuk event-nya."

Pertanyaan lain seputar itu adalah tentang mengapa sesuatu yang dilaksanakan di atas fasilitas umum yang dibayar para pembayar pajak harus dipungut biaya?

Dalam rangkaian JFC tahun ini saya juga mengikuti ulasan Oryza Ardyansyah yang dimuat di beritajatim. Dibanding mengulas kesepuluh defile tahun ini (Majapahit, Pegasus, Reog, Lionfish, Parrot, Ikebana, Fosil, Egypt, Melanesia, serta Circle), Oryza lebih banyak mengulas dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Saya suka artikel-artikel yang ia tulis sebab bersifat memaparkan saja, tidak hendak bermaksud memihak. Tidak ada pro dan kontra. Ketika menuliskan tentang dana APBD sejumlah satu milyar untuk JFC 2015 misalnya, ia menuliskannya dengan ringan. Meskipun di luar sana banyak komentar-komentar miring. Kebanyakan dari mereka bertanya, mengapa tiket harus dimahalkan? Sedangkan pihak JFC telah menerima dana tambahan yang diambil dari APBD. Komentar ini biasanya dijawab oleh mereka yang pro JFC, bahwa penonton di luar alun-alun, yakni di Jalan Gajahmada, masih bisa menyaksikan gratis tanpa harus membeli tiket.

Di hari yang lain Oryza juga mengangkat tema tentang libur sekolah untuk siswa-siswi yang lokasi sekolahnya dijadikan jalur JFC. Dalam artikel tersebut mengulas tentang berbagai dampak yang muncul bila sekolah diliburkan dan sebaliknya. Perhelatan JFC mempunyai daya tarik yang begitu luar biasa, hal ini tentu saja mendatangkan jumlah penonton yang tak sedikit. Khusus bagi sekolah-sekolah yang jalannya dilalui jalur JFC akan mengalami kendala akses, mengingat betapa macet dan riuhnya penonton yang berjejalan. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi orang tua murid.

Beberapa judul yang dibuat Oryza sangat menarik. Saya suka salah satu artikelnya yang berjudul; JFC Belum Punya Dampak Greget di Masyarakat Jember. Beberapa artikelnya yang dimuat beritajatim.com sempat dibagikan di beberapa group media sosial. Ada banyak opini dan tentu saja masukan mengenai JFC yang saya lihat dari beberapa kolom komentar.

Pada 29 Agustus 2015, sore hari, saya tertawa membaca 'update status' dari Oryza. Ini yang dia tuliskan. "Pendukung JFC sama galaknya dengan pendukung capres dan suporter ultras klub luar negeri. Dalam politik ini modal besar, kalau Mas Dynand Fariz mau jadi caleg atau cabup." Kalimat yang menghibur.

Kemacetan lalu lintas adalah tema wajib yang senantiasa diperbincangkan setiap tahun, manakala ajang Jember Fashion Carnaval sedang digelar. Tema tahunan lainnya yang tak kalah ramai adalah tentang sempitnya jalur 'caltwalk jalanan' yang harus dilalui oleh para defile sebab masyarakat penonton berdiri berdesakan untuk bisa melihat dari jarak yang sangat dekat. Akibatnya, perjalanan para defile jadi tersendat. Belum lagi mereka masih dimintai foto bersama. "Itulah mengapa dibuatkan pagar pembatas," kata Frandono, salah seorang Guard dalam JFC tahun ini.

Ada satu pertanyaan yang hingga kini tak bisa mendapatkan jawaban secara gamblang. Kita sedang menggelar acara kolosal kelas Internasional yang bersifat membuai, sedangkan para defile dan penonton tentu ada yang memeluk agama Islam. Bagaimana mereka melaksanakan salat? Pertanyaan sederhana ini seringkali mendapatkan jawaban yang tak tentu arah, namun dirangkai dengan kata-kata yang sepintas terdengar cerdas.

Tiga tahun lalu, penyair muda asal Lumajang bernama Halim Bahriz pernah menuliskan uneg-unegnya tentang JFC. Ia bilang, JFC bukanlah JFC yang tanpa Dinand Fariz. Partisipasi masyarakat hanya menempati nilai keterlibatan turistik belaka. Keturutsertaan kalangan muda Jember, belum cukup kuat menyatakan perihal partisipasi tersebut. Selain tingkat kuantitas pelibatan kalangan muda itu yang masih kecil, otoriteristik individu Dinand masih terlampau dominan. Doministik itulah yang selanjutnya mempersulit JFC memunculkan sense of belongings masyarakat secara merata. Ketidakmerataan itulah yang menjadikan JFC, terlalu dini untuk kemudian dianggap sebagai identitas kota.

Masih menurut Halim Bahriz. Doministik individu, semestinya diredam. JFC harus memulai keintimannya dengan masyarakat Jember. Hingga saat ini, antara JFC dan arsitektural kota Jember belum tercipta sebuah hubungan yang mampu saling menjelaskan. Hal ini membuat JFC tak mampu mengucapkan tentang Jember, begitu pula sebaliknya.

Mohamat Solihin, fotografer muda Jember yang kini tinggal di Gresik, ia melihatnya dari sisi ikon sejarah. "Saya lihat dari tahun ke tahun, setiap kali JFC digelar, patung Letkol. Moch. Sroedji bernasib buruk. Ia selalu ada di balik layar panggung, hanya tersisa leher ke atas untuk dipertontonkan. Itu juga jika ada yang peduli untuk memperhatikannya. Jika benar JFC adalah ajang kelas dunia, seharusnya kita pun berkewajiban menunjukkan kepada dunia mengenai sosok pejuang itu."

Kabar baik dilontarkan oleh Wigi, seorang blogger dan jurnalis dari detikcom. Menurutnya, JFC 2015 jauh lebih baik dan tertata dibanding JFC di tahun-tahun sebelumnya.

Seperti kota-kota lain di Indonesia, Jember pun butuh memiliki identitas otentik. Kiranya Jember Fashion Carnaval dianggap bisa meluruhkan rindu dan memenuhi kebutuhan itu. (Penulis: RZ Hakim - Foto: Sigit Agro)