Wanita Desa yang Beromzet Bisnis Rp 350 Juta Sebulan

Kalung, anting dan gelang wanita dari manik-manik dan batu yang berhasil diekspor ke Eropa dan Cina dengan omzet penjualan sekitar Rp 350 juta sebulan. Penghasilannya ini sangat besar untuk ukuran desa. Sehingga tidak heran jika rumah yang ditempatinya paling megah di perkampungan Ledokombo, sekitar 30 kilometer sebelah utara Kota Jember.

Sebagai mantan TKW (Tenaga Kerja Wanita) selama tujuh tahun bekerja di negara Malaysia. Wanita berjilbab modern ini pada tahun 2010 memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kaki Gunung Raung untuk kembali seterusnya di tanah kelahirannya.

Awalnya wanita berdarah Madura ini karena pintar berbahasa Inggris diajak saudaranya mencoba peruntungan di Bali. Holisa diajak mencoba membuat kerajinan aksesori wanita dari manik-manik berupa kalung, anting dan gelang wanita yang dijualnya di Kuta, Bali sebagai daerah tujuan turis asing. Ternyata lokasi toko nya benar-benar strategis dan dikunjungi banyak pembeli dari wisatawan asing karena harga aksesoris wanita yang dijualnya tergolong tidak mahal mulai Rp 15.000 sampai Rp 100.000. Kreasi kalungnya luar biasa tidak kalah dengan untaian kalung model buatan luar negeri yang dipajang di pusat perbelanjaan Jakarta. Penulis sampai membeli beberapa kalung ketika mendatangi rumah produksi kalungnya karena sangat menarik bentuknya.

Di Ledokombo wanita yang wajahnya manis ini memperkerjakan wanita dan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya yang bekerja mengerjakan untaian kalung di rumahnya masing-masing sampai 60 orang. Sehingga wanita yang diperkerjakannya merasa nyaman bekerja menguntai manik-manik menjadi kalung atau gelang bisa disambi sambil memasak atau mengasuh anak di rumahnya masing-masing. Ada juga sebagian wanita sekitar 10 orang yang memilih bekerja bersama di kediamannnya.

Ada beberapa buyers atau pembeli asing yang membeli dalam volume sangat banyak untuk keperluan ekspor di negara asalnya Eropa dan Cina. Sekarang ini Holisa sedang bekerja sama untuk importir asal Cina yang setiap minggunya memberinya pekerjaan membuat kalung, anting dan gelang dengan nilai omzet per minggunya hampir Rp 80 juta. Sehingga omzet penjualan kerajinan aksesori nya total sebulan hampir Rp 350 juta ditambah penghasilan dari hasil penjualan toko aksesorisnya di Kuta, Bali yang masih dipertahankan sampai sekarang.

Dari pembeli asal Eropa dan Cina yang secara tidak sengaja dipertemukan karena mereka berbelanja aksesorisnya di tokonya di Kuta, Bali. Akhirnya Holisa berhasil bertemu mitra dari negara asing yang mampu mengekspor hasil kerajinan tangan wanita Desa Ledokombo ini. Alhasil wanita-wanita di Eropa dan Cina sekarang ini banyak yang memakai kalung, anting dan gelang buatan Kecamatan Ledokombo yang desanya sepi dan tenang ini.

Di tangan Holisa selalu tergenggam telepon genggam android karena di alat komunikasi itu lah Holisa menjalin komunikasi dengan pembeli dari Cina dan Eropa. Setiap hari Holisa berkomunikasi secara teratur dengan relasinya untuk menerima pesanan gambar-gambar semua bentuk dan warna kalung, gelang dan anting yang diinginkan pembeli untuk keperluan ekspor.

Holisa juga tidak pelit membagi ilmunya kepada orang lain. Komunitas Tanoker Ledokombo yang dipimpin Farha Ciciek mengantar penulis ke kediaman Holisa karena rumahnya sering dijadikan sebagai tujuan wisata peserta pelajar outbond Tanoker Ledokombo untuk percontohan pembelajaran kerajinan kreatif pedesaan Kecamatan Ledokombo. Sehingga banyak anak-anak kota yang belajar merangkai manik-manik kalung di rumah Holisa.

Keuntungan bersih Holisa setiap bulan sekitar Rp 100 juta setelah dikurangi biaya produksi dan gaji pekerjanya. Suatu angka yang besar untuk hidup di pedesaan Ledokombo yang subur dan berhawa dingin. Tidak heran Holisa memiliki beberapa rumah, sawah dan tanah hasil keringat tabungannya menjadi bisnis women atau wanita pengusaha. Untuk membayar gaji pekerjanya setiap minggu, Holisa harus menyediakan uang tunai Rp 60 juta untuk pembayaran mingguan. Jadi setiap bulan untuk gaji karyawan saja dia mengeluarkan biaya upah Rp 240 juta.

olisa memilih tetap melakukan pekerjaan bisnisnya di kampung halamannya di Ledokombo meski sudah memiliki toko aksesoris wanita di Bali karena ingin memberi pekerjaan kepada wanita-wanita desa yang menjadi tetangganya. “Saya tidak ingin ada banyak wanita Ledokombo menjadi TKW,” ujar Holisa lirih mengakhiri percakapan. (Asita DK Suryanto)