Tema Tibet Dan Venice Mendominasi Jember Fashion Carnaval XII

Subuh, saat sang fajar hendak muncul dari ufuk timur, sudah kulihat begitu banyak kerumunan orang yang sedang berdandan di salon sebelah rumah. Semua sibuk dengan make-up dan baju yang hendak mereka kenakan. Indahnya langit pagi seolah tak mereka hiraukan, bingung dengan diri mereka masing-masing. Beberapa terlihat sedang mengenakan pakaian bertema Spider, Octopus, Betawi, Tibet hingga Bamboo. Pagi ini, mereka bersiap untuk mengikuti Jember Fashion Carnaval XII yang akan di selenggarakan hari ini, tanggal 25 Agustus 2013.

Sekitar pukul 11 siang, aku dan kakak nekat berangkat ke jalan gajah mada untuk melihat JFC. Pada saat itu, jalanan untuk menuju pusat kota jember, Alun-alun, sudah di tutup, kami terpaksa memilih jalan lain yang lebih panjang untuk menuju Jalan Gajah Mada, tempat kami akan melihat JFC. Kami memang sengaja tidak melihat di Alun-Alun, disamping panas, kami pasti akan berdesak-desakan dengan warga Jember yang tak mau kalah untuk mendapatkan posisi terdepan agar bisa melihat atraksi yang dilakukan peserta JFC di Alun-Alun.

Sepeda motor yang kakak kendarai telah terparkir di halaman LP (lembaga Pemasyarakatan). Setelah itu, kami berjalan menuju pinggir Jalan Gajah Mada, bergabung dengan warga yang sedang menantikan kedatangan peserta.

Peserta JFC akan menampilkan atraksi-atraksi memukau di Alun-Alun (start perlombaan), kemudian mereka akan berjalan melewati Jalan Raya, Jalan Gajah Mada dan berakhir di Gedung Olah Raga (GOR) di Jalan Nusantara. Biasanya, peserta memulai atraksi pukul 12 siang, dan untuk sampai ke tempat aku menunggu ini, memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam, walau sebenarnya jarak dari Alun-Alun Jember ke Jalan Gajah Mada tidak sampai 2 kilometer.

Tahun 2013 ini, Tema Utama dari Jember Fashion Carnaval XII adalah “Art meet technology and illusion” atau sering disingkat “Artechsion”, dan dengan 10 tema defile yaitu Tibet, Betawi, Bamboo, Artdeco, Octopus, Canvas, Tribe, Spider, dan Venice. Sebenarnya, acara JFC tahun ini adalah acara yang berbeda dari acara sebelumnya, karena pada tahun ini, JFC di selenggarakan menjadi tiga tahapan yakni, Kids Carnival pada tanggal 23 Agustus 2013, Art Wear Carnival pada tanggal 24 Agustus 2013, dan Grand Carnival pada tanggal 25 Agustus 2013 dan diawali dengan JFC International Exhibition, yaitu Painting Exhibition, Photo Exhibition, dan Culinary Exhibition.

Berdirinya “Rumah Mode Dynand Fariz” sebagai realisasi dari keinginan Dynand Fariz sebagai pendidik di bidang fashion agar semua orang tidak hanya memahami teori dari fashion itu saja tetapi juga terjun langsung sebagai praktisi sehingga tahu persis keadaan di lapangan. Dimulainya acara Pekan Mode Dynand Fariz dimana seluruh karyawan selama sepekan harus berpakai sesuai dengan trend fashion dunia. Diawali dengan acara pekan Mode Dynand Fariz dengan berkeliling kampung dan alun-alun Jember menjadi inspirasi timbulnya gagasan untuk menyelanggarakan JFC.

Jember Fashion Carnaval pertamakali diselenggarakan bersamaan dengan HUT kota Jember, yaitu 1 Januari 2001. Acara itu berlanjut menjadi acara tahunan di kota Jember. Tiap tahunnya terjadi peningkatan penonton. Tak hanya warga Jember dan wisatawan domestik dari penjuru Indonesia saja yang melihat, banyak juga wisatawan mancanegara, dan fotografer negara tetangga datang untuk menikmati acara Fashion tahunan ini.

 

Arloji kelabu yang kukenakan menunjukkan pukul 3 lebih 47 menit. Tepat saat aku melihat jam arloji itu, terdengar suara riuh musik dari kejauhan. Spontan, para penonton yang ikut duduk lesehan di jalanan beraspal bersamaku langsung berdiri. Mereka langsung berdesakan mencari posisi terdepan agar dapat melihat dan memotret peserta dengan baju indah yang mereka kenakan. Badanku terasa tertekan-tekan oleh manusia yang berjejelan dan ribut untuk bisa melihat peserta JFC. Aku benci suasana seperti ini! Kebiasaan penduduk akan kedisiplinan saat menonton JFC adalah salah satu hal yang paling aku benci. Rasa ego mereka tumpah ruah bersamaan disaat mereka mulai mendengar alunan musik. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mereka hanya memikirkan cara cepat untuk berada di posisi terdepan barisan penonton. Mereka hanya ingin melihat peserta dengan jelas. Mereka tak memikirkan bagaimana nasib seseorang yang berada ditengah-tengah mereka, orang lemah yang tak punya tenaga kuat seperti mereka untuk bisa berada di posisi terdepan. Mereka tak memikirkan apa akibatnya bila mereka terus berdesak-desakan. Sungguh menyebalkan!Aku selalu mengalah ketika melihat acara seperti ini. Disaat semua orang berdesakan, aku hanya terdiam, bertahan agar tidak terjatuh.

Indahnya pakaian yang dikenakan peserta membuat mataku terbuka lebar. Aku masih tak habis pikir bagaimana sulitnya, bagaimana susahnya dan bagaimana perjuangan semua peserta untuk membuat kostum itu. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk sebuah kostum paling rendah Rp 1,5 juta, bahkan ada beberapa peserta yang sampai menghabiskan Rp 5 juta.

Mentari mulai lelah menyinari kota ini, kian lama mentari mulai hilang di ufuk barat. Kini giliran sang purnama yang menggantikan mentari yang lelah. Hari telah gelap. Semua penonton telah berhasil mengabadikan beberapa gambar dari peserta JFC. Saat ini, mereka semua buyar, berjalan menuju kendaraan mereka masing-masing. Jalanan yang tadi dipadati penonton kini berubah menjadi jalanan sepi yang di penuhi oleh sampah. Kedisiplinan penduduk kota ini memang benar-benar menjijikkan. Mereka meninggalkan sampah-sampah yang berceceran dimana-mana. Hatiku seakan menangis melihat kotaku dipenuhi oleh sampah itu.

Perjalananku hari itu diakhiri oleh rasa sedih yang amat sangat ketika melihat rentetan sampah di sepanjang jalan gajah mada. Tanpa mengetahui siapa pemenang dari JFC XII aku akhirnya kembali ke rumah. (Penulis: Mahesi Binar)