Gula merah dari Bahan Nira Dibuat di Ambulu dan Wuluhan

Bagian selatan Kota Jember merupakan daerah pesisir yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan nelayan. Namun untuk sebagian desa di dua kecamatan, Wuluhan dan Ambulu sebagian warganya memilih sebagai pembuat Gula Merah. Jika pada sebagian daerah menggunakan Nira dari pohon aren, desa dari dua kecamatan ini berbeda, mereka menggunakan Nira dari pohon kelapa sebagai bahan baku pembuat gula.

Desa Kepel contohnya, desa ini terletak di sisi timur Desa Lojejer yang berdekatan dengan muara Sungai Bedadung. Desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Wuluhan ini memiliki lahan perkebunan kelapa milik warga yang bisa dibilang luas, jika rata-rata pembuat Gula Merah memiliki 100 pohon kelapa dengan jarak tanam 5 meter maka bisa dibayangkan berapa luas lahan perkebunan kelapa milik warga desa jika ada 300 KK.

Pembuatan gula merah di desa ini diturukan secara turun temurun pada generasi mudanya. Namun, tidak semua pemuda mau untuk meneruskan profesi ini, anggapan menjadi pembuat gula merah kurang punya masa depan yang baik bermunculan sehingga menjadikan para generasi muda mulai meninggalkannya, ada pula warga yang menyewakan pohon-pohon kelapanya pada tetangga untuk diambil Niranya.

Sepasang suami istri muda bernama Erfan dan Lastri setiap harinya memilih sebagai pembuat gula merah dalam kesehariannya. Profesi ini diturunkan dari keluarga Erfan. Pagi hari setelah sarapan Erfan menyiapkan perlengkapannya, Sepeda Ontel, Kempu (Jirigen 35L), Saringan, Tampar (Tambang), Parang khusus, dan Enjet (Kapur Lembek). Sekitar pukul 09:00, Erfan berangkat ke kebun yang berada di belakang rumahnya, setiap harinya Erfan memanjat 60 hingga 80 pohon. Jumlah pohon tergantung seberapa banyak Nira yang dihasilkan jumlah ini juga tergantung pada musim.

Nira yang sudah terkumpul dalam tiga kempu, berikutnya dituang dalam dua wajan besar. Wajan pertama berfungsi untuk proses pemanasan dengan suhu tinggi, dan wajan kedua untuk proses pemanasan suhu sedang. Dalam kata lain, wajan kedua hanya untuk proses menunggu wajan pertama ketika Nira dalam wajan pertama sudah menyusut, kemudian dicampur hingga menjadi satu wajan. Proses memasak ini membutuhkan waktu selama enam jam, dan selama itu juga nyala api dijaga supaya tidak mengecil.

Setelah Nira dalam dua wajan tadi menjadi satu dan mulai merah mengental, proses selanjutnya mengaduk gula merah yang masih panas ini dengan pola tersendiri, agar gula tidak mengeras sebelum dicetak. Cetakan gula merah ada dua macam, pertama menggunakan batang-batang bambu yang sudah dipotong sesuai ukuran. Kedua cetakan menggunakan papan mainan Dakon atau Congklak, cetakan ini mulai digemari pembuat gula merah dari tahun 2000an, karena lebih mudah proses mencuci dan mencopot gula merah yang sudah di cetak.

Gula-gula yang dihasilkan kemudian dijual dengan harga Rp.8800/kg pada tengkulak. Kabarnya tengkulak memproses lagi sebelum gula-gula ini dijual. Gula merah akan dimasak kembali, kemudian dicampur dengan air dan gula pasir agar mendapatkan jumlah yang lebih banyak.

Desa Kepel contohnya, desa ini terletak di sisi timur Desa Lojejer yang berdekatan dengan muara Sungai Bedadung. DeSelama ini pembuat Gula Merah di Desa Kepel baru satu kali merasakan bantuan pengembangan usaha dari pemerintah melalui Kredit Usaha Kecil dan Macro secara langsung tanpa proses pengajuan. Sulitnya usaha tidak sedikit menjadikan warga disini hijrah, memilih sebagai TKI dengan harapan memiliki kehidupan yang lebih layak.

Bagi anda yang sedang jalan-jalan ke Jember bisa untuk berkunjung dan melihat proses pembuatannya, tentu anda juga bisa membeli Gula Merah secara langsung pada pembuat gula jika anda tertarik untuk membelinya (VJ Lie).