Desa Tutul Pusat Kerajinan Tasbih Kabupaten Jember

Kalau berkunjung ke Jember mampirlah ke Desa Tutul, di Kecamatan Balung Jawa Timur yang sudah menjadi desa percontohan sentra industri kecil. Ditandai dengan banyak industri kecil dan kerajinan yang meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Contoh kerajinan yang dihasilkan di Tutul adalah tasbih, gelang, kalung, gantungan kunci, dan keperluan rumah tangga lainnya. Kerajinan-kerajinan tersebut sebagian besar terbuat dari kayu.

Sebagai pusat produksi kerajinan kayu berupa manik-manik gelang, kalung dan tasbih yang palingbanyak diproduksi sekarang ini berbahan kayu. Ribuan warga yang mahir membuat aneka aksesori dari kayu bisa menembus ekspor ke Cina dan dijual lokal di Banyuwanagi, Bali, Jakarta, Surabaya dan kota lainnya.

Data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan, dari total 9.989 warga Desa Tutul, ada sekitar 1.057 orang yang berprofesi sebagai perajin. Oleh Menteri Muhaimin Iskandar dinobatkan Desa Tutul sebagai salah satu desa produktif di tanah air.

Desa ini berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Jember. Letaknya yang relatif jauh dari kawasan ekonomi perkotaan, mendorong warganya berupaya keras membangun industri dengan keahlian yang dimiliki. Tak heran, kemampuan membuat kerajinan dari kayu ibarat sudah mendarah daging bagi warga Desa Tutul.

Lantaran bersifat industri rumahan, kegiatan produksi dilakukan warga di rumah masing-masing. Salah satu warga yang berbisnis kerajinan tasbih selama 17 tahun, Acmad Soni (35 tahun) mengatakan pihaknya tetap eksis membuat tasbih karena pasaran stabil.

Paling rame pesanan pada musim jemaah haji pulang haji untuk oleh-oleh sanak saudara. Harga tasbih kayu di Desa Tutul tergolong murah mulai Rp 30.000 per kodi sampai Rp 50.000 per kodi isi 20 biji untuk bahan kayu kukun. Sedangkan tasbih kayu paling mahal dari bahan kayu gaharu Rp 300.000 per buah untuk ukuran besar. Sedangkan per kilogramnya tasbih gaharu bisa mencapai Rp 1 juta .

Soni menambahkan, mayoritas warga Desa Tutul memang berprofesi sebagai perajin kayu. Perajin sering melimpahkan order kepada warga sekitar. Sekarang,Soni sudah mempekerjakan sebanyak 20 perajin di rumahnya yang sekaligus menjadi pabrik kayu pemrosesan tasbih dengan upah sekitar Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per hari.

Setiap kayu yang diterima perajin sudah digergaji dan dipotong-potong dalam ukuran tertentu. Proses mulai kayu digergaji sampai berbentuk bulatan tasbih kemudian diberi pewarna dan menjadi untaian tasbih sekitar satu minggu.

Kayu kukun setelah berbentuk bulat untuk tasbih dirangkai menjadi tasbih dengan ukuran mulai kecil sampai besar bervariasi isi 33 dan 99 biji untuk muslim sedangkan tasbih Buddha isi 108 biji. Bentuk tasbih untuk muslim kepalanya tulisan Al Quran sedangkan tasbih Buddha kepala tasbihnya berbentuk puncak klenteng. Soni setiap bulannya mencapai omzet antara Rp 5 juta sampai Rp 50 juta tergantung jumlah pemesanan.

Kayu kukun bisa diperoleh dari sekitar Bondowoso sedangkan kayu gaharu yang bagus dari Kalimantan. Kalau Anda berkunjung ke Jember jangan lupa mampir Desa Tutul di Balung untuk belanja tasbih, gelang dan kalung. Sayang Pemda Jember belum menyediakan fasilitas pusat penjualan hasil kerajinan Desa Tutul berupa workshop atau showroom bersama yang terpusat sehingga pembeli harus memburu kerajinan dari rumah ke rumah pengrajin. (Asita DK Suryanto)