Pantai Papuma Membuat Banyak Kenangan

Awalnya aku hanya mendengar saja cerita dari papaku, dulu waktu papa masih muda tepatnya waktu masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Jember beliau adalah seorang petualang gunung, pantai dan susuri sungai. Entah berapa ratus kali gunung telah didaki mulai Jawa sampai Bali. Demikian juga menyusuri pantai mulai dari Mayangan, Rowocangak, Nanggelan, Bande Alit sampai pantai Plengkung.

Hasratku untuk melihat dan menikmati pantai semakin menggebu, apalagi teman sekelas tiap hari Senin selalu bercerita tentang liburan kepantai. Entah itu pantai Watu Ulo, Papuma atau Pasir Putih di utara kota Jember. Aku tiap hari selalu meminta papa untuk pergi ke pantai, tidak sia-sia, akhirnya papa mengabulkan permintaanku. Papa tidak mempunyai mobil, jadi saya, mama, papa naik sepeda motor, kami berangkat pagi sekali sekitar pukul 05.00.

Rute yang kami lewati adalah Jember, Mangli belok ke kiri terus menuju Jenggawah, dari Jenggawah sampai Ambulu jalannya lurus. Ketika sampai Ambulu ada perempatan, kita lurus saja, kira-kira 7km dari perempatan kita sudah sampai di Watu Ulo.

Di pantai yang anginnya keras ini bisa duduk-duduk santai sambil melihat dari kejauhan birunya laut, pulau-pulau karang yang menjorok keatas berpencaran, dan nelayan melaut. Apalagi ditambahi minum air kelapa muda menambah nikmat suasana menikmati Pantai Papuma.

Sampai ditempat tujuan pukul 06.30, mulanya kami menuju ke Watu Ulo, hawa dinginnya pagi masih terasa segar sementara matahari mulai mengangkat sinarnya, sehingga air laut kadang berwarna keemasan disinari cahaya matahari, betul betul suatu pemandangan laut yang sangat indah!

Di ujung batu yang menjorok ke laut kira kira sepanjang 25 meter ada beberapa orang sepertinya menantang ombak mereka begitu dekat dengan deburan ombak, begitu ombak menghantam batu karang yang dinamakan Watu Ulo mereka bersorak dengan gembiranya ada yang tetap berdiri ada pula yang takut dan menghindar mundur, kelihatannya mereka sangat bahagia dengan permainan ombak menabrak batu yang sekilas mirip dengan sisik ular, batu yang menjorok kelaut itulah yang disebut Watu Ulo.

Puas dengan pemandangan Watu Ulo, papa mengajakku ke balik gunung atau tepatnya dibalik batu karang sebelah Watu Ulo orang-orang menyebutnya Malikan, mungkin arti Malikan berasal dari kata jawa, yaitu Malik artinya kalau dalam bahasa Indonesia adalah balik atau dibalik gunung. Kami berangkat menuju Malikan, awalnya melewati sebuah jembatan kecil kemudian jalannya begitu menanjak sampai aku takut sekali, kemudian sampai pertengahan gunung kami di stop untuk membayar restribusi masuk. Padahal di pantai Watu Ulo kami sudah membayar.

Setelah membayar, kami melanjutkan perjalanan naik gumuk, sampai di atas papa berhenti dan mempersilahkan saya dan mama turun dari sepeda motor, kemudian kami menuju pinggir tebing untuk melihat pemandangan laut dan pantai Malikan. Begitu terkejutnya aku melihat pantai luas, ada juga atol atau batu karang di tengah laut, ada yang kecil dan ada yang besar, aku sangat kagum sekali. Betul-betul indah pemandangan di sini, aku sangat tidak percaya begitu indahnya pantai dan laut di kotaku, aku tak bisa berkata tentang keindahan yang aku lihat, seperti lukisan karya Basuki Abdullah.

Begitu sempurnanya sampai aku berdiam setengah jam terasa sedetik, dari ketinggian sekitar 100 meter aku bisa melihat pantai Malikan yang berpasir putih. Sangat indah dan rasanya aku pingin cepat-cepat turun untuk mengiinjak kakiku ke pasir putih. Tetapi aku masih betah disini, aku merasakan seperti berada di surga, sampai aku berpikir apakah indahnya surga itu seperti ini???

Ombak-ombak saling berkerjaran ada yang suka menuju pantai ada pula yang ingin menabrakan diri di atol tengah laut. Pemandangan yang aku lihat ternyata tidak kalah menarik dan indah dengan pantai yang ada di Brazil yaitu FERNANDO DE NORONHA, andai semua orang luar negri jujur dalam menilai, saya sangat yakin bahwa pantai PAPUMA adalah pantai paling indah di dunia melebihi pantai Fernando de Noronha di Brazil. Saya terhipnotis oleh keindahan pantai dan laut Papuma, Saking terpesonanya tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi, maka papa mengajakku turun ke bawah.

Sampai dibawah, 2 meter diatas permukaan laut, saya tidak langsung turun ke pasir, saya melihat sekeliling, ternyata pantai Papuma dikelilingi oleh hutan keras, saya tidak bisa melihat nama-nama pohon karena kelihatannya memang tidak diberi nama, suasananya sangat tenang.

Di sekitar sini juga ada beberapa bangunan rumah, itu yang dinamakan home stay. Lebih jauh saya memandang kedalam hutan, saya melihat beberapa monyet diam diatas pohon entah apa yang dia pikirkan. Setelah meneguk beberapa teguk-an air putih dari rumah, saya mulai menuju pantai dengan air lautnya, pasirnya berwarna putih besih, dan saya mulai berbaur dengan banyak orang dipantai, pasirnya lembut di kaki terasa enak waktu menginjak, seperti dipijat.

Saya memandang jauh ke lepas pantai, air laut biru dan sangat bening diantara para pengunjung pantai ada beberapa orang yang berseragam, mereka berkaos lengan panjang, ternyata mereka adalah petugas keamanan pantai yaitu para penjaga pantai, saya berpikir ternyata enak juga di pantai Papuma, bermain air laut dan pasir masih dijaga oleh para penjaga pantai.

Saya bermain air laut yang hangat, tidak lagi memikirkan celana basah ataupun tidak, sementara papa dan mamaku hanya melihatku dari kejauhan, aku mengaduk-aduk pasir, membuat semacam tugu kemudian rusak diterjang ombak laut dan aku tertawa melihatnya, aku lakukan hal yang sama berulang ulang tanpa merasa bosan.

Setelah puas dengan bermain main air dan pasir, tepat pukul 12 siang saya mengajak pulang, pada saat sepeda sampai diujung paling tinggi dimana saya pertama kali melihat pantai Papuma dari ketinggian. Saya menoleh dengan hati bergetar, selamat tinggal pantai Papuma saya akan datang lagi. Hatiku tertinggal di pantaimu , kamu sangat menawan dan elok rupawan, saya sangat terpesona oleh keindahanmu.

Enam jam saya mengagumi dan bermain di pantai Papuma, Saya tidak melihat satupun bule atau turis saat itu, kenapa? Tiba-tiba saya bertanya demikian, apakah bule tidak berkenan dengan keindahan pantai Papuma? Saya rasa tidak, mungkin pemerintah masih kurang promosi keluar negeri, mereka mungkin tidak tahu bahwa di Jember ada pantai terindah di dunia, kenapa tidak seterkenal Fernando De Noronha.

Setelah puas dengan bermain main air dan pasir, tepat pukul 12 siang saya mengajak pulang, pada saat sepeda sampai diujung paling tinggi dimana saya pertama kali melihat pantai Papuma dari ketinggian. Saya menoleh dengan hati bergetar, selamat tinggal pantai Papuma saya akan datang lagi. Hatiku tertinggal di pantaimu , kamu sangat menawan dan elok rupawan, saya sangat terpesona oleh keindahanmu.

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, mungkin papaku bisa menjawab. Juga kenapa membayar retribusi masuk 2 kali? Apakah sebaiknya sekali saja? Ternyata wisata pantai sangat mengasyikan, Pantai juga sangat menyenangkan apalagi untuk menghabiskan liburan. Kita bisa memandang luas kelaut lepas, menikmati deburan ombak, merasakan hangatnya sentuhan pasir pantai bisa menenangkan jiwa dan membuat hati kita bahagia.

Wisata pantai bisa menjadi primadona selamanya untuk para turis datang menikmati indahnya pantai, tinggal pemerintah bagaimana mengelolanya. Saya yakin tidak hanya para selebritis manca negara yang akan berkunjung di pantai Papuma tetapi para Presiden dari manca negarapun akan berkunjung ke pantai Papuma. Harapan saya Pantai Pasir Putih Malikan atau yang biasa disebut Papuma bisa mengangkat nama Jember ke tingkat dunia, melebihi pantai yang berada di Brazil. Amin. (Mahesi Binar Pradapa)