Ingat Pasar Tanjung, Ingat Jukok Pindang

Kenangan terjauh saya pada Pasar Tanjung adalah di pertengahan medio 1980-an. Saya masih ingat, saat itu Nenek selalu senang jika harus mengajak cucunya yang masih bocah ini untuk menyertainya kulak'an. Saya juga senang. Itu sama artinya dengan wisata kuliner jajanan pasar.

Iya benar, Nenek adalah seorang penjual rujak di kampung Kreongan. Aktifitasnya setiap pagi adalah menuju Pasar Tanjung untuk berbelanja bahan-bahan kebutuhan. Saya bahkan masih ingat pada Abang becak langganan Nenek.

Pada Rabu malam, 29 Mei 2013, saya mengantarkan istri belanja ke Pasar Tanjung. Macam-macam yang dibeli olehnya, mulai dari cabe hingga daging ayam, dan hampir kesemuanya dilakukan dengan proses tawar menawar. Sebuah interaksi sosial yang tak mungkin kita temukan di pasar modern.

Selama menemani istri berbelanja, ada banyak pemandangan 'pasar' yang membuat saya tertegun. Seolah-olah, saya sedang menikmati karya para pelukis humanis. Lihat, di sana ada seorang ibu penjual tempe sedang tidur di atas matras lusuh, sementara tak jauh dari tempatnya ada saya lihat seorang laki-laki bertubuh kekar yang sedang membongkar muatan sayur mayur.

Selama proses menunggu istri berbelanja tersebut, saya jadi ingat saat-saat ketika dulu pernah ngobrol dengan Bapak, seputar Pasar Tanjung.

"Bapak masih ingat betul, ketika kakakmu lahir, pasar tanjung masih dalam proses pembangunan dan belum diresmikan. Itu tahun 1975, di masa Bupati Bapak Abdul Hadi. Satu tahun berikutnya (1976), pasar itu baru benar-benar selesai, diresmikan, dan mulai beroperasi," kata Bapak.

Ketika saya tanyakan pada beliau, apa sebelumnya di sana sudah ada pasar tradisional? Hmmm, ternyata sudah ada geliat perdagangan di sana, tapi namanya bukan pasar tanjung. Orang-orang hanya menyebutnya pasar, atau pasar Jember. Kondisinya jauh lebih sederhana, hanya berupa stand-stand biasa. Mungkin, yang membuatnya tampak mewah hanyalah latar belakang water tower peninggalan Belanda.

"JZman itu, masyarakat Jember wilayah kota lebih mengenal pasar senggol. Berlokasi di sepanjang Rasulta (sebutan untuk Jalan Raya Sultan Agung) dan hanya buka di malam hari. Adapun Pasar Jember (sekarang Pasar Tanjung), hanya buka pada pagi hingga sekitar pukul 2 - 3 sore."

Bapak juga bercerita tentang mengapa pasar dadakan di malam hari itu disebut pasar senggol. Ternyata, orang-orang sering terlibat saling senggol oleh sebab ramainya pengunjung dan terbatasnya jalur pejalan.

Fenomena pasar senggol membuat saya berpikir, wajar jika pemerintah daerah merasa perlu untuk membuat pusat perdagangan, yakni Pasar Tanjung. Waktu itu (awal tahun 1970-an), kegiatan ekonomi di Jember mengalami perkembangan yang pesat. Penyebab lainnya adalah semakin meningkatnya jumlah penduduk. Otomatis, meningkat pula jumlah kebutuhannya.

Di hari yang lain, saya pernah melihat foto-foto Jember tempo dulu. Ternyata Bapak benar, penggarapan Pasar Tanjung selesai pada tahun 1976, di masa kepemimpinan Bapak Abdul Hadi. Kemudian, pasar dengan bangunan fisik tiga lantai ini segera menjadi pusat perbelanjaan masyarakat Jember. Lantai atas untuk bongkar muat dan jajaran stand sembako, sedangkan lantai bawah digunakan untuk perdagangan barang pecah belah dan kebutuhan akan sandang.

Adapun perancang dan pelaksananya (biro bangunan) adalah CV Bedadung Jember, dengan rekanan/pemborongnya yang bernama M. Ghozi.

"Ayo Mas kita pulang."

Ups, ternyata istri saya sudah selesai belanja. Saatnya menghentikan lamunan panjang akan Pasar tanjung tempo dulu. Segera saya nyalakan motor. Namun sebelum meluncur pulang, saya sempat melirik bangunan Pasar tanjung lantai dua, tempat dulu Nenek biasa membelikan saya jajanan pasar favoriit, gudir dan lupis.

Ah, kenangan masa kecil saya tertinggal di sini, di bangunan lusuh yang rindu direnovasi ini. Jika benar perdagangan adalah jiwa sebuah negeri, maka kita bisa melihat kesejahteraan Kota Jember dari Pasarnya. (RZ Hakim)