Tentang Jember

Sejarah Peradaban Jember

Awal peradaban di Jember, dimulai dari ketertarikan suku Jawa (diluar Jember) dan Madura untuk migrasi ke Jember. Kenapa suku Jawa dan Madura tertarik untuk menetap di Jember? Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, ada dua alasan.

Alasan yang pertama karena ada perkebunan di Jember yang bernama LMOD. Atau lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di Jember tahun 1859, pertengahan abad 19 Masehi. Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal. Pertama, mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja.

Karena keterbatasan jumlah pribumi Jember, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah. Diantaranya tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras dan ulet. Namun demikian, pihak kolonial kesulitan untuk masalah pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan kontrol dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak banyak melahirkan pertentangan dan mempunyai kecenderungan watak penurut.

Alasan kedua kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember adalah lancarnya Jalur transportasi. Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari Surabaya-Probolinggo-Jember. Dan jalan darat yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah daerah di bagian barat.

Jember dianggap memiliki prospek yang lebih baik. Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember juga terjadi di wilayah Karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah dari Karesidenan Besuki. Perpindahan itu menggunakan berbagai macam cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi Militer.

George Birnie dan Ketertarikan Belanda Terhadap Jember

George Birnie adalah pegawai pemerintah Belanda dan berwarga Negara Belanda. Birnie melakukan usaha percobaan penanaman tembakau di daerah Jember. Usaha ini terlaksana tahun 1859. Disaat ada dua pengusaha swasta Belanda yang mau bekerja sama dan bersedia memberikan modal. Kedua pengusaha itu adalah Mr. C. Standenberg Matthiasen dan A.D Van Gennep.

Selanjutnya atas dasar kesepakatan ketiga pengusaha tersebut, maka tanggal 21 Oktober 1859 mendirikan sebuah perusahaan tembakau di Jember. Nama perusahaan itu adalah N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember (LMOD).

Pendirian LMOD ini menarik pengusaha swasta lainnya untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. LMOD kemudian menjadi perintis masuknya kapitalisme Belanda ke Jember dan daerah pedalaman Jawa Timur lainnya.

Di data disebutkan bahwa Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa hal, diantaranya , Masalah pengairan, Tersedianya air yang sangat cukup.

Tanahnya Subur, kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan Masalah infrastruktur transportasi dan komunikasi, infrastruktur transportasi dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak kolonial.

Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859), masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau, meskipun dengan jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja. (RZ Hakim, Sastrawan Jember)